Monday, March 24, 2025

Jejak yang Bermakna

 Tak perlu membuang energi,

Sebab Allah selalu menyaksi,

Langkah kecil yang kita kendali,

Lebih berarti dari bimbang tak henti.


Masih ada senyum empat buah hati,

Masih ada murid menanti arti,

Bukan gengsi, bukan ambisi,

Tapi manfaat yang terus abadi.


Jangan jadikan ayat dan sunnah,

Sebagai dalih menggapai hasrat,

Sebab cahaya-Nya bukan alat,

Melainkan petunjuk penuh rahmat.


Jangan pernah merugikan,

Sebab jejak tak hilang ditelan angin,

Kebaikan tumbuh dalam kesabaran,

Mengalir abadi, tak akan lenyap terasing.



Cahaya yang Tertutup

Al-Qur’an selalu terdengar,

Nilai Islam selalu diajar,

Namun mengapa hati mengabur,

Tak lagi teduh, tak lagi mekar?


Bukti paham adalah takut kepada-Nya,

Bukan sekadar lantunan kata,

Melainkan hati yang tunduk hening,

Meresapi makna yang tak berpaling.


Namun sombong menyelinap halus,

Setiap ayat seolah menunduk,

Merasa tinggi, merasa mutlak,

Seakan makna tak lagi luas.


Sementara sunnah perlahan pudar,

Bukan lagi pedoman yang dikejar,

Hanya kata-kata yang disimpan,

Tanpa amalan, tanpa teladan.



Ketidakberdayaan kami

Kami terlalu malu menghadap-Mu, 

Diliputi nikmat, namun menjauh, 

Ilmu kami ajarkan tiap waktu, 

Tapi khilaf masih menyusup utuh.

 

Kami pengajar, namun melanggar, 

Bermanfaat, tapi menyakiti, 

Dalam satu waktu, dua arah, 

Tanpa sadar hati ternodai.

 

Ternyata kami tak pernah hebat, 

Kami lupa, kami terikat, 

La yasuuqul khoir illa Allah, 

La yashrifus su’a illa Allah.

 

Tiada daya, tiada kuat, 

Hanya butiran debu di alam semesta

La haula wa la quwwata, 

Illa billah, hanya Engkau pemilik semesta.